Sabtu, 22 Februari 2014

Apakah motto LDII?


Ada tiga (3) motto LDII, yaitu:
  • Dan hendaklah ada di antara kamu sekalian segolongan yang mengajak kepada kebajikan dan menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung;
  • Katakanlah inilah jalan (agama)-ku, dan orang–orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha suci Allah dan aku tiada termasuk golongan orang yang musyrik; 
  • Serulah (semua manusia) kepada jalannya Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan yang  lebih baik.

Mengapa sholat Jum’at di masjid LDII menggunakan bahasa Arab?

Khutbah Jum’at di masjid LDII menggunakan Bahasa Arab karena tidak ada satupun Ulama yang menyatakan bahwa khutbah Jum’at dengan bahasa Arab itu tidak sah, walaupun mustami’in tidak seluruhnya bisa memahami isi khutbah.

Seperti halnya ketika musim haji dimana Imam Masjidil Harom menyampaikan khutbah berbahasa Arab sedangkan mustami’in yang datang dari seluruh dunia belum tentu bisa mengerti isi khutbah tersebut.

SEMUA KARENA CINTA


And I believe that in my life I will see,And in to hopelessness Or giving up Or suffering
Then we should stand together this one time,Then no one will get left behind  And stand up for life  Stand up For love

Potongan lirik lagu Destinys child itu menginspirasi arti penting cinta dalam kehidupan ini. Baik Cinta pria dan wanita, cinta kepada anak, orang tua maupun cinta kepada Allah.

Belum  lama ini  saya  membaca dua  orang  kakak  beradik  di  Jakarta meninggalkan orang tuanya yang sedang sakit parah di bawah kolong jembatan Cawang, karena kebingungan tidak ada biaya merawat. Akhirnya orang tua malang itupun meninggal pagi harinya. Sebaliknya ada seorang ayah yang tega menyetrika anak atau menyiksanya. Ini semua karena hilangnya cinta dan sayang karena himpitan ekonomi.
Tetapi ada juga kisah, raja yang galau karena sang putra mahkotanya ternyata seorang pemuda, apatis, dan tak berbakat. Suatu saat raja mencoba mengubah pribadi putranya dengan kata kunci: "The power of love". Dan terjadilah sesuatu yang diharapkan, putranya jatuh cinta dengan seseorang wanita. Tapi kepada gadis itu raja berpesan,"Kalau puteraku menyatakan cinta padamu, bilang padanya ,"Aku tidak cocok untukmu, Aku hanya cocok untuk seseorang raja atau seseorang yang berbakat menjadi raja." Benar saja, putera mahkota seketika tertantang. Maka ia pun mempelajari segala hal yang harus diketahui oleh seorang raja dan ia pun melatih diri menjadi seorang raja. Dan seketika luar biasa, bakat seorang raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata ia bisa! Tapi karena cinta.Cinta bisa menjadi kekuatan luar biasa,bila digunakan untuk motivasi positif.

Dan kali ini cerita tentang saya di awal ramadhan kemarin, saat itu istri yang saya cintai, jatuh sakit beberapa hari, tidak bisa bangun dan tidak bisa menjalankan ibadah puasa. Saya dan anak anak cukup kalang kabut, cucian menumpuk, rumah seperti kapal pecah, makan saur dan berbuka terpaksa membeli di warung, atau anak saya mencoba memasak dengan rasa yang jauh berbeda dari masakan ibunya. Kami berusaha bergotong royong berbenah selama istri saya sakit, tapi kok gak bisa seberes dan serapih kalau istri saya sedang sehat. Saya tercenung dan merenung, ternyata dibalik kelemahan wanita, ada kekuatan dahsyat yang diluar nalar kita manusia. Kami ber lima anak beranak, berusaha menggantikan pekerjaan istri saya, tapi tidak mampu menandingi pekerjaan dia seorang. Ternyata kekuatan dahsyat itu datang dari dalam diri seorang wanita yang sangat mencintai keluarganya, ya semua karena cinta. cinta kepada keluarga dan juga cinta kepada Allah tentunya.

Cinta telah bekerja dalam jiwa dengan sangat baik. Dan cinta memang selalu begitu, menggali jiwa manusia ke dalam, terus mendalam, sampai mata air keluhuran hati ditemukannya. Maka dari sana menyeruak luar biasa semua potensi kebaikan dan keluhuran dalam dirinya. Dari sana , mata air keluhuran mengalir deras, membanjir dan desak mendesak hingga bermuara pada perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta membuat manusia jadi manusia,dan memperlakukan manusia ditempat kemanusiaan yang tinggi.  Kalau cinta kita kepada Allah membuat kita mampu memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada manusia, hewan, tumbuhan atau apa saja, mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang diperlukan untuk yang kita cintai. Dengan kata lain, cinta suci harus mampu membawa sesuatu yang dicintai pada kebaikan, pada hakikat cinta sejati, pada cinta Allah yang abadi. Jatuh cinta membuat manusia merendah, tapi sekaligus bertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat.

Allah memberikan kesempatan pada kita untuk menghirup dunia ini, itu atas cinta Allah pada kita. Allah telah menciptakan kita begitu sempurna, memberikan kita raga begitu rupa, memberikan kita waktu begitu raya,memberikan semuanya begitu berharga. Allah pulalah yang selalu di sisi kita, melihat kita, mendengar kita, membimbing kita menuntun kita walau kita kadang luput untuk mengingat-Nya. Allah pulalah yang selalu hadir dalam kesendirian kita, di saat kita tersudut dalam keperihan, di saat kita terpuruk dalam kedukaan, di saat semua lupa pada kita. Allah pulalah satu-satunya yang tak pernah mengecewakan kita atas sesuatu hal yang kita harap. Allah-lah satu satunya yang Maha Pemberi terbaik bagi hamba-hambanya. Begitu besarnya cinta Allah kepada kita, tak tertandingi seluas langit dan bumi pun. Apakah kita, manusia, masih mampu menggantikan cinta-Nya dengan seorang hamba manapun yang lemah..Memang, rasanya tidak mungkin  dunia dan seisinya,dan juga keimanan kita ini bisa terbangun dengan sempurna  tanpa Cinta dan kasih sayang, yang dilandasi cinta kepada sang Kholik.

Barang siapa yang ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah hendaklah dia mengamati bagaimana kedudukan Allah dalam dirinya.Sesungguhnya Allah menempatkan hambaNya dalam kedudukan sebagaimana dia menempatkan kedudukan Allah pada dirinya (HR.Al Hakim)

Macam-Macam Facebooker


Beberapa minggu saya akrab dengan dunia yang satu ini saya jadi bisa menjumpai berbagai tipe orang dalam dunia FB :

  1. FBker Curhartistic : bagi FBker tipe ini Update Status adalah WAJIB!!, biasanya orang orang seperti ini adalah orang yang realis apa adanya.
    * +: ketika dia mengalami kebakaran maka mobil pemadam lebih cepat datang.. karena informasi akan lebih cepat tersampaikan...
    * - : ketika kamu lage ngapain aja semua orang bakalan tau ( kalo misalkan orang ini lagee di wc temennya bakalan ikut2tan kebauan... gak segitunya juga see... hehe
  2. FBker Narsistic : tipe inibiasanya lebih suka upload foto daripada update status, Tapi bagi mereka 1 picture =1000 words, ngirit kata2 dan biasanya mereka ini Romantis dan gak terlalu cerewet..
    * + : mereka lebih ekspresif sebenernya daripada Curhatistic dan terkadang lebih gokil sebenernya
    * - : Narsisnya gak ketulungan terkadang bikin ILL feel
  3. FBker Shopaholic : Namanya akan ditandai dalam setiap katalog karena udah langganan kalee ya, Ini adalah tipe orang yang didunia nyata emang suka belanja jadi tersalurkan di FB ....( orang ini beraliran konsumeristic/hedonistic )
    * plusnya : whew, jadi terkanal bo' namanya ditandain dimana2, kadang kalo beruntung dapet barang berkualitas wahid dengan harga klithikan ( obralan ), dan jadi berpengalaman tentang dunia perjualbelian
    * minusnya : bokek bo'...!! resiko berat dikejar2 debt kolektor gara2 tagihan ATM yang menggunung... hiiyyy... syerem...!!!!
  4. Fbker Salestic: Tipe ini pasti minimal punya bakat marketing, dan jika anda beruntung anda akan menjadi enterpreneur SUKSES..!! whew..!!! dan orangnya agak money Greedy gitu..!! hehe yoyoilah kan namanya enterpreneur ya... profit oreinted :P (aliran materialistic)
    * + : banyak duit deh kayaknya (kalo udah Advance)
    * - : ati2 lama-lama jadi ntar matanya berubah jadi ijo kalo liat Duit (money greedy...)
  5. Fbker Isengitic : Mau Update Status Seminggu sekali aja udah bagus..!!! Biasanya orang2 tipe ini membuat FB atas desakan teman2nya, atau tuntutan pergaulan alias ISENG aja..!!, (agak nggak iklas juga tuwh ngeluarin pulsa/duit ke warnet buat sign up FB.. hehe tapi lama ketagihan dan jadi tipe bawahnya)
    * + : "time is worthy (waktu sangatlah berharga) g ada waktu buat Status2 gajeL" kata si tipe ini.
    * - : Melewatkan kesempatan emas untuk bertemu dan bersilaturahim dengan saudara2 dari negeri antah berantah, terkadang hal2 berharga kan bisa diambil dari FB
  6. Fbker Addictic : OL bagaikan makan or mandi ( minimal 3x sehari deh, haha...!! entah via HP Modem or rajin2 nyambangin Warnet) Udah Addicted alias ketagian abis sama yang namanya Fb...
    * +: SELAMAT anda adalah sahabat setia FB,,, temukan berbagai keajaiban melalui Social Network ini...
    * -: TIME.. TIME..TIME... there is something worthier to do than just NGUPLEK ENG FB (ada banyak hal yang lebih berharga daripada ngutak atik FB)
  7. Fbker Lovaristic : Love will find you if you try...!! Inilah semboyan sang Lovaristic, sejak Sign Up mungkin mereka udah Nawaitu "CARI JODOH..!!", dan fasilitas chat adalah favorit mereka...!!!
    * + : terkadang Jadian juga low....!! qiqiqiqiq..
    * - : Hati2 disitulah Setan menebarkan Jaring2nya...!!
  8. Fbker Gamblistic : POKER adalah nafasnya di FB....
    * + : Jika kau beruntung lumayan beberapa chip bisa dituker duit ...(katanya se..)
    * - : My Suggestion : Avoid this..!! Belajar Judi dong sama aja, ntar diomelin sama Bang Haji Rhoma Irama low..!!
  9. Fbker Gametic : Poker ma Mavia Wars Lewat...!! Bosen cobalah yang lain, mereka adalah tipe pembosan dan FB adalah pembunuh waktu yang sangat efektif..!!
    * + : Dhuer..!! Kubunuh Kau Wahai kebosanan yang melanda jiwa..!! GHuahahaha..
    * - : Penelitian mengatakan ternyata mematikan kreativitas sama menembuhkan kekerasan pada anak2...!! hIIY. Lama2 jadi KDRT tuwh (Naudzubillah...!!!)
  10. Fbker Advistic :? Para Fbker ini lebih suka menggunakan FB sebagai sarana Amar Makruf Nahi Munkar, Atw sarana DAKWAH....
    PAK MARIO TEGUH BANGED LAH...!!
    * +: BANYAK PAHALA, menginspirasi saudara Qta yang lain, menambah saudara, pokoknya internet sehatlah...
    * -: Belom menemukan Negatifnya.. soalnya mereka2 yang Advistic ini benar2 menggunakan secara benar Social network ini dengan Tulus pula.. Selama niatnya tak terselip keinginan yang lain ...

KESIMPULANNYA ADALAH SEMUA ORANG MEMPUNYAI KEPENTINGAN YANG BERBEDA KETIKA MEREKA MEMUTUSKAN UNTUK SIGN UP FOR FREE di FACEBOOK , semoga kita dan saudara-saudara kita yang telah berAkun di Social NETWORK ini bisa lebih mUtawari' dalam menggunakan Pisau bermata dua ini...!! Amin..!!

TERMASUK MANAKAH KITA..???

TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN SALAH SATU DARI ANDA MASUK DALAM LEBIH DARI SATU KRITERIA ...!!!

Move On ala Rosululloh


 
move on ala rosululloh
Ooo .. jadi kamu galau karena semua masalah masalah kamu ...???

OK, deh Guys ... Asal kamu tahu, ketika masalah menggalaukanmu ... Langit bumi dan benda benda langit gak peduli tuh, mereka tugasnya berotasi .. yah muter-muter terus tuh ... Gak ada istilah "langit ikut menangis karena kalian galau". Udah lah bro .... Let's MOVE ON!

Nih dengar ya ... Kalau kalian Sedih ...

Bumi tetap berrotasi selama 23-24jam sehari dan berrevolusi 365-366 hari dalam setahun ...

Surga Neraka masih beroperasi

Alam kubur juga gak tutup

Malaikat Rokib Atid juga gak liburan mencatat amal kalian, Guys :)

Yang masih Galau Move On yuk .. :)

BTW, kalo ngomongin masalah Move on. Ternyata istilah Move on sudah ada lho dari zaman Nabi Muhammad SAW.

Mau Tau Move on Ala Rosululloh SAW ?

Jadi ceritanya gini sodarah, Nabi kita Muhammad SAW ketika menerima wahyu pertama, gak ada yang percaya selain Sang Istri tercinta Bunda Khadijah R.A dan Abah Abu Bakar Ash-Shidiq A.S bahkan dari sanak family beliau banyak yang meremehkan bahkan merintangi. Tapi, nabi Muhammad gak serta merta galau begitu saja, rintangan itu justru membuat Beliau semakin bersemangat untuk memperjuangkan kebenaran ini, Gan.

Makin lama pengikut Nabi Muhammad SAW semakin banyak, walau kebanyakan adalah dari kalangan miskin dan budak. Melihat fenomena ini, paman nabi Muhammad yang benci sekali dengan Islam melancarkan serangan serangan yang membahayakan. Bahkan, memerintahkan agar Nabi ditangkap dalam keadaan hidup atau mati.

Nah, akhirnya inilah saatnya Nabi Muhammad ber-Move on Alias Hijrah dari Mekkah ke Madinah

Dan Allahpun berfirman, " Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui," ( 16 : 41 )

Nabi Muhammad SAW dan awalul mukminin Muhajirinpun berhijrah dengan niat karena Allah, seperti yang difirmankan Allah :

"(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar" ( 59 : 9 )

Dan, apakah setelah Nabi besar kita move on menjadi tambah hina? Ohh, tentu tidak ... Bahkan pada tahun 8 H Nabi Muhammad SAW berhasil melakukan pendobrakan yang luar biasa besar pada kampung halamannya , Makkah, tanpa pertumpahan darah yang sering kita kenang dengan peristiwa "FATHUL MAKKAH" Yang mana .... :

Bangsa Quraish ketakutan menyaksikan ribuan pasukan

berbusana cinta dan akhlaq mulia

Dipimpin rosulillah Sollaullohu Alaihi wasallam

Menaklukkan Tuhan Tuhan kebatilan

Dengan membaca Al-Qur'an .... ( Firman Tuhan )

Masjidil Harom penuh manusia takut baginda

Karena telah berdosa

Namun Baginda menabur cinta

rahmat dan ampunannya ...

( H. Shobirun - Pengasuh Ponpes Mulya Abadi )

Selain itu hikmah dari Hijroh alias Move on itu adalah bersaudaranya kaum Muhajirin dan Anshor ( Hmm too tuit tekali yah ).

Buat kita ... Move on berarti berhijrah dari dosa menuju pahala, move on dari yang batal menuju yang benar, move on dari yang awalnya buruk menjadi baik daaan seterusnyaaa ....

Tapi jangan lupa ... Hijroh atau Move on harus karena Allah yaa ... seperti yang diriwayatkan Bukhori

" Dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi, bahwa dia pernah mendengar [Alqamah bin Waqash Al Laitsi] berkata; saya pernah mendengar [Umar bin Al Khaththab] diatas mimbar berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan"

Nah, Rosululloh kita udah cukup jadi uswatun hasanah kan buat kita ... So, whatta ya waitin' fo ? Move On forward ala Rosululloh yuk ... ( bukaaan, maksudnya bukan disuruh pindah kewarganegaraan lho ya .. )

Move on ala Rosululloh yang menghadapi cobaan, rintangan dan kegalauan hidup dengan semangat, sabar, dan pantang menyerah ^^.

Itu lhoo ... macam Abah yang punya cantolan "Barongan barongan mundur ... Anget anget maju"

( Rojo Gandul ) itu lhoo hoho ...

Kalo kalian punya rencana A dan gak berhasil .... tenang abjad kan ada 26, masih ada rencana A, B, C, D ...dst. sampe Z. hehe :P

Oleh : Dika Syahida

KEPO with Qur'an Hadith


 Kepo
KEPO ...??? Makhluk apa itu ..? Atau semacam pisang yang enak digoreng itu lhoo pisang KEPO ...??? ( hehe ... itu pisang KEPOK, lurr ... ). KEPO itu bukannya kata lain dari nyesel yaa ..?? ( Itu KAPOK, luuur ...)
KEPO itu singkatan bahasa Inggris Knowing Every Particular Object ( KEPO ) yang artinya tauuu banget hal yang paling biasa sampe yang luarbiasa dari rahasia umum sampai top secret dari sesuatu apapun itu, manusia, benda, makhluk atau kegiatan. Hyaah benar sekali seperti wartawan PAPARAZII yang selalu membontot artis yang sedang paling populer mulai dari hobbbynya sampai flu aja bisa jadi TT ( trending topic ) twitter atau sosmed yang lain, muncul di TV ditayangkan di acara Infotainment sehari 3 kali (udah kayak minum obat aja.... HEHE).
Iyaapz seperti itulah KEPO. Nah, zaman Nabi udah ada tuh wartawan infotainment PAPARAZZI gitu hanya saja bukan diabadikan dalam bentuk pesan multimedia macam sekarang. Kalo kalian memang Kepo-ers Hadist pasti tahu sahabat Nabi yang satu ini .... sering muncul sebagai rowi ( periwayat hadith ) yang tsiqoh ( dipercaya ) beliau adalah pecinta binatang terutama kucing ... Hayoo siapa ?? KEPO? iya, bener kok luuurr, dialah Abu Huroiroh R.A.
Menurut riwayat beliau adalah salah satu shohabat yang paling rajin mengikuti Nabi Muhammad SAW tapi tidak seperti wartawan paparazi itu juga sih yang suka mengekspos hingga sampai ke kehidupan pribadi dan privasi yang di KEPOin hemm ... Berkat beliau Abu Hurairoh R.A banyak sekali sunnah yang indah yang dapat di ambil hikmah ( Subbhanallah )
Nah, jika kamu memang ngaku Generasi Penerus yang ingin sukses dunia akhirat sesuai dengan Tri sukses Generasi Penerus yaitu jadi Generus yang punya Akhlaqul Karimah, Faham dan Mandiri. Siplah kalo ketiga hal tersbut bisa hinggap di setiap diri generus Manshurin. Apa hubungannya sama KEPO? Apakah kita harus KEPO dengan ustadz ustadzah kita? ( Hehehe gak gitu juga kali, lurr .. :D ) Yang di-KEPO in itu ilmunya Lurr ... ! Ilmu Qur'an Hadist tentunya. Hayoo udah katam belum Qur'an Maknanya? Hadistnya dapet berapa?. Sudah seberapa KEPO anda dengan Qur'an Hadist?
Ini dia keuntungan yang bisa saudara dapatkan jika KEPOin Qur'an Hadist
1. Melestarikan Kebaikan
Seperti kata beliau Salman Al-Farisi dalam Muqoddimah kitab Ad-Darimiy
•    عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَبِيعَةَ قَالَ قَالَ سَلْمَانُ : لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا بَقِىَ الأَوَّلُ حَتَّى يَتَعَلَّمَ الآخِرُ، فَإِذَا هَلَكَ الأَوَّلُ قَبْلَ أَنْ يَتَعَلَّمَ الآخِرُ هَلَكَ النَّاسُ * رواه الدارمي فى المقدمة
Artinya : Manusia senantiasa dalam kebaikan selama Generasi muda belajar kepada generasi tua, jika Gnerasi tua habis sebelum generasi muda belajar pada generasi tua maka rusaklah ( kebaikan ) Manusia.
2. Menjaga dari Godaan Syetan
Diriwayatkan dari Sahabat Ibni Mas'ud Nabi Muhammad SAW pernah ngendiko ( bersabda ) :
 وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَعَالِمٌ وَاحِدٌ أَشَدَّ عَلَى إِبْلِيْسَ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ ِلأَنَّ الْعَابِدَ لِنَفْسِهِ وَالْعَالِمَ لِغَيْرِهِ
Yang artinya : Demi dzat yang diriku ditanganNya, Niscaya satu orang yang faham agama lebih mudah bagi iblis untuk digoda daripada 1000 orang ahli ibadah karena ahli ibadah bermanfaat untuk dirinya sendiri, sedangkan ahli ilmu bermanfaat bagi orang lain.
3. Ilmu adalah kehidupan Islam dan Tiang Keimanan
Seperti yang termaktub dalam hadist dibawah ini
    الْعِلْمُ حَيَاةُ اْلإِسْلاَمِ وَعِمَادُ اْلإِيْمَانِ ...الحديث  رواه أبو الشيخ عن ابن عباس
4. Dido'akan ampun oleh malaikat serta seluruh makhluk dibumi, diberi mahkota yang lebih terang dari matahari. Dan yang pasti ... jadi petunjuk jalan Masuk SURGA selamat dari NERAKA ...
Apaa lagi ya manfaat KEPO-in Qur'an Hadith ..?? SURGA itu kaya apa? NERAKA itu kaya gimana? Iyyh KEPO ya? Makanya Ngaji ... !!!!
That's the best way to KEPO with Qur'an Hadith. (Dika)

Masbuloh


masbuloh
Namanya Abu Bakar Al-Kindi. Sebelum bertemu orangnya, pasti akan mengira kalau dia orang arab, dari namanya. Apalagi Abu Bakar, nama seorang sahabat yang tenar, khalifah pertama, yang bergelar Ash-Shidiq. Semua orang kenal dengan nama itu. Ditambah lagi Al-Kindi yang menunjukkan remahnya tata bahasa arab, seperti Al-Kahfi, Al-Ghifari, dan lain-lain.
Ini tipuan yang pertama. Begitu ketemu orangnya, hilang apa yang ada di kepala. Bayangan orang arab yang tinggi besar, hidung mancung dan badan kekar sirna. Mata sipit. Kulit kuning. Wajah 100 persen Cina. Tak ada wajah Melayu, Jawa atau Arabnya. Lawan bicara pun langsung merubah imajinasinya; Ohh ternyata dia keturunan Cina. Orang Cina dengan nama Arab. Inilah tipuan yang kedua. Tidak hanya sampai di situ, ketika dia mulai bicara dengan intonasi yang berat khas pejabat, orang baru sadar dari ketidak-percayaannya. Walau bernama arab, raut – muka asli cina, tapi haqqul yaqin dia produk local. Indigo. Bukan gaya, bukan nyombong dia memang asli putera Palembang. Dengan berkelakar dan santainya dia berseloroh, bahwa banyak orang yang tertipu ketika pertama kali kenal dengannya, apalagi kalau lewat telepon. Sebab nama arab, tampang cina, tetapi produk Palembang. Itulah tipuan yang ketiga.

Tak ada aturan dan pakem yang jelas dan baku dalam memberi nama. Orang jawa diberi nama arab boleh – boleh saja. Atau tetap pakai role model nama jawa yang pakai to dan no juga gak apa-apa. Sukarno, Suharto adalah contoh nama jawa yang beken. Kita juga kenal Gus Dur, yang nama aslinya adalah Abdurrahman. Namun banyak orang yang merasa tidak sreg dengan nama aslinya. Kurang menjual, kurang keren atau kurang hoki, katanya. Apalagi jika bersentuhan dengan metropolitan atau alasan tertentu. Demi yang satu ini, yang semula bernama Paijo mengenalkan diri sebagai Jhon Pai. Tadinya bernama Joko menjadi Jack. Nama aselinya Edy Sudarno, tetapi kalau kenalan pakai nama Hambali. Dan banyak lagi yang lain. Orang melayu diberi nama barat boleh saja. Alex, Jexi, Lexi adalah beberapa contohnya. Asal jangan memberi nama anti sara, itu bisa berbahaya. So, janganlah mempersoalkan nama. Biarkanlah apa adanya. Walau kadang kita tertipu dibuatnya. What’s the name?

Ketika ada teman bercerita, dengan maksud menunjukkan keprihatinannya, jusru mendapatkan respon yang tak diduga. Entah bermaksud bergurau atau serius, rasanya gak pas dilakukan pada situasi seperti itu. Ketika sedang bercerita tentang suatu keluarga yang patungan untuk sebuah tiket, Neneknya nyumbang sekian ratus ribu, Ibunya sekian, Bapaknya sekian dan adik-adiknya sekian sampai tertutupi harga tiket tersebut, dan berhasillah si anak sulung nonton Konser Suju di GBK. Yah, gotong royongnya sih bagus, tetapi apa ya perlu sampai segitunya. Naudzubillah. Tiba-tiba ada yang nyeletuk dari sudut ruangan; masalah buat loh!

Banyak diantara kita bersikap kepada sesuatu yang seharusnya bukan menjadi masalah justru kita usil berkata; Emang masalah buat loh! Sedangkan pada sesuatu yang seharunya menjadi masalah, justru kita diam membiarkannya saja. Padahal jelas itu masalah buat loh. Serius atau bergurau. Allah berfirman; “Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”. (QS Al-A’raf:164)

Di rumah kami yang kecil pada bulan Ramadhán kemarin, petengkaran sporadik di antara anak-anak kami sering terjadi. Untuk diakui keberadaan dan perannya, berbagai cara dilakukan oleh anak-anak itu. Salah satunya dengan hal-hal yang aneh, hanya sekedar untuk cari perhatian atau perlindungan di dalamnya. Mendengar adiknya mengadukan tingkah kakaknya yang batal puasa, makan dan minum sembunyi-sembunyi, dengan cekatan si Kakak menyahut; “Masbuloh!” Dengan mimik yang seolah menantang; “Itu urusan gue, lho gak usah ikut campur!” Juga ketika si Sulung sedang asik main laptop diusili adiknya, serta merta dia bicara; “Masbuloh! Kamu kan sudah main lama, sekarang giliranku,” sergahnya.

Saya jadi bingung apa maksud masbuloh ini. Apa ada tetangga baru? Kok dipanggil-panggil mas. Saya pun penasaran. “Pak, itu Mas main terus seharian. Tadi dia ngabisin makanan. Terus belum mandi juga sampai sekarang. Chargernya disembunyiin…..dst.” “Masbuloh!”, celetuk kakaknya. Rasanya, semakin ngetrend saja kata ini di telinga. Sayang saya belum ngerti maksudnya. Melihat maknanya seperti istilah EGP tempo dulu. Akhirnya istri saya buka suara; “Masbuloh itu Pak, maksudnya masalah buat loh. Ah payah, gak gaul!” Oooh, akhirnya….

Dulu ada idiom Emang Gue Pikirin (EGP), sekarang beralih topik menjadi masbuloh (masalah buat loh). Beda jaman emang beda model. Demikian juga dengan prokem. Bedanya EGP menunjuk hidung sendiri, sedangkan masbuloh menunjuk hidung orang lain. Walau sama-sama menunjukkan ketidak-pedulian atau melempar tanggung jawab ke yang lain. Namun perlu diingat, bahwa sikap seperti ini mempunyai konsekuensi yang besar. Memang kita mendapatkan keuntungan dan manfaat sesaat saat itu, tetapi dalam jangka panjang sebenarnya kita tengah menciptakan suatu kejahatan pada diri sendiri yang akan menimpa kita suatu waktu. Sebagaimana Allah berfirman dalam Kitabnya terkait masalah ketidak-pedulian dan lempar tangung jawab seperti ini; “Dan takutlah kamu pada fitnah yang tidak hanya khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS Al-Anfaal:25)

Maka, ketika pulang dari Cipanas, Garut bersama keluarga minggu yang lalu, di Toll JORR ketemu sebuah truk yang berjalan di sebelah kanan dengan gayanya dan tak mau ngalah, saya tersenyum lebar. Sebab di bak belakangnya tertulis; Masbuloh! :D (FA)

7 Ayah Terkeren dalam Al Quran


father-son-stormtrooper-www.wired.com
Umumnya dari kita mengetahui bahwa pada tanggal 22 Desember merupakan Hari Ibu. Banyak orang melakukan berbagai cara untuk menghormati jasa wanita yang melahirkan mereka. Tahukah Anda kapan Hari Ayah? Hari Ayah di Indonesia dirayakan pada 12 November setiap tahunnya.
Untuk memperingati jasa-jasa ayah, inilah deretan ayah terkeren dalam Islam. Semoga para warga LDII bisa mengambil pelajaran dari mereka.
1.  Nabi Muhammad S.A.W.
Siapa yang tidak kenal beliau? Rasulullah dikenali oleh semua orang, baik musuh ataupun kawan. Beliau dinobatkan sebagai orang paling berpangaruh di dunia versi buku ‘The 100’ ini memiliki 4 putra dan 4 putri, walaupun keempat putranya meninggal saat masih kecil, tetaplah beliau ayah terbaik. Jiwa penyayangnya kepada anak-anak tidak diragukan lagi. Nabi Muhammad menyayangi semua anak kecil meskipun tak memiliki hubungan darah dengannya.
Beliau menciumi anak kecil saat berjumpa, mengajak balap lari, dan membuat lelucon jenaka merupakan keahliannya, dalam menghibur anak dan cucunya. Beliau juga merupakan sosok yang sabar dan tidak suka memarahi anak kecil.
Walaupun sabar dan tidak suka marah kepada anak kecil, bukan berarti menghilangkan sifat tegas beliau dalam mendidik anak. Rasulullah tidak segan menegur anaknya apabila menyalahi adab yang dibenarkan Islam. Beliau pernah menegur Umar bin Abu Salma “Hai nak! Bacalah basmalah, menyuaplah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang ada didekatmu!” dari Aisyah HR. Bukhari dan Muslim.
Beliau bahkan pernah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, tentu Muhammad akan memotong tangannya.” HR. Bukhari. Melalui contoh di atas kita mengetahui sebagai seorang ayah kita patuh dekat dengan anak akan tetapi tidak menghilang ketegasan dan objektivitas tetang kebenaran.
2. Nabi Ibrahim A.S.
Nabi Ibrahim menjadi sosok ayah terkeren berikutnya karena keberhasilannya membina suatu keluarga. Prestasinya di antaranya Sarah yang sholehah, Hajar yang tegar, dan Ismail anak yang sholeh dan mampu menguatkan dan mengokohkan keimanan bapaknya. Nabi Ibrahim telah berhasil mendidik keluarganya menjadi keluarga yang senantiasa mentauhidkan Allah SWT.
Fase Dua yang sangat sulit dalam hidup sebagai seorang ayah telah Beliau lalui dengan baik. Dua fase itu adalah ketika turun perintah dari Allah meninggalkan Hajar yang baru melahirkan Ismail di bukit gersang tak berpenghuni dan saat turun perintah menyembelih anaknya Ismail. Walaupun berat Ibrahim menjalankan perintah Allah tersebut. Rasa cintanya kepada keluarga tidak pernah mengalahkan rasa cintanya kepada Allah. Bahkan Ibrahim sebagai seorang ayah mampu meyakinkan keluarganya tentang arti ketaatan kepada perinta Allah.  Memalui kisah ini kita menyadari bahwa seorang ayah tidak sepantasnya menjadikan rasa cinta kepada keluarga sebagai alasan untuk berbuat negatif. Seberat apapun kondisi yang ayah terima kita harus tetap yakin bahwa Allah akan senantiasa menolong dan memberikan jalan. 
3. Nabi Ya'qub A.S. (Ayahnya Nabi Yusuf AS)
Nabi yang juga dikenal sebagai Nabi Isroil dan menjadi nenek moyang Bani Israil ini menjadi ayah terkeren bukan karena memiliki anak Nabi Yusuf yang super tampan. Akan tetapi, hal yang tidak kalah keren darinya adalah kesabaran beliau dalam mengenalkan baik dan buruk kepada anaknya.
Sifat iri yang kerap dimikili oleh anak terhadap perhatian orang tua mereka kepada saudaranya juga dialami oleh anak Yaqub. Rasa iri ini yang menjerumuskan anak-anak Yaqub untuk berbuat jahat kepada Yusuf. Meskipun mengetahui anak-anaknya telah berbuat jahat kepada anak kesayangannya, Yusuf, Yaqub tidak serta-merta membuang dan mengusir anaknya dari rumah. Akan tetapi Yaqub justru mendoakan ampunan kepada Allah untuk anak-anaknya. Beliau juga menasehati dan  mendoakan semoga anak-anaknya dapat berubah menjadi lebih baik. Sikap kesabaran ini yang seharusnya dimikili oleh seorang ayah yang memiliki anak nakal atau bermasalah. Kekurangan anak bukan berarti menjadi alasan seorang ayah untuk mengusirnya. Akan tetapi menjadi tanggung jawab orang tua lah untuk meluruskan jalannya.
Beliau juga masih memberikan harapan anak-anaknya untuk berubah dan berbuat baik saat meminta Bunyamin untuk ikut ke Mesir. Rasa percaya ayah kepada anak inilah yang beliau terapkan. Orang tua harus bersikap tegas tetapi tidak menghakimi dan melebel negatif anak. Orang tua seharusnya menjadi seorang yang paling dekat dan paling percaya kepada anak  bahwa ia akan berubah di saat posisi tersebut. 
4. Nabi Dawud  A.S. (Ayahnya Nabi Sulaiman A.S.)
Mengenali potensi anak itulah keahlian yang dimiliki oleh raja yang adil dan sangat kaya raya ini. Nabi Dawud telah mengetahui potensi kecerdasan Sulaiman jauh ketika anaknya masih kecil. Ketika mengetahui potensi anaknya, Dawud giat mengasah kecerdasan Sulaiman untuk memimpin kerajaan dan memberikan hukum yang adil terhadap suatu permasalahan. Sulaiman senantiasa diajak melihat teknik menyelesaikan masalah kerajaan.
Alhasil Sulaiman tumbuh kemampuan analisisnya dan menjadi anak yang semakin cerdas. Hal ini yang harus dimiliki seorang ayah. Mengenali bakat anaknya dan mendukungnya ke arah yang positif. Mengenali bakat anak sejak dini penting dilakukan guna menentukan arah pendidikan yang sesuai.
Dawud juga patut menjadi contoh bagi para ayah yang anti kritik dan sulit mendengarkan pemikiran anaknya. Beberapa hukum yang sulit seperti saat kasus kambing yang memakan tanaman di kebun tetangganya dapat diselesaikan Dawud dengan bantuan Sulaiman. Walaupun dengan kata lain harus Dawud harus menerima kritikan anaknya. Dawud dapat lapang dada menerima masukan anaknya sejauh hal tersebut membawa ke arah yang lebih baik.
Sering kali orang tua menganggap dirinya selalu benar dan anak harus mendengarkan semua perkataannya. Mengeritik nasehat orang tua sering kali dianggap sebagai membantah atau menentang orang tua. Hal-hal semacam itu sebaiknya diperbaiki. Sudah saatnya ayah membuka pikiran dan mencoba menyaring masukan anak. Ayah seharusnya bisa mendengar masukan anak dan mengarahkannya ke arah yang positif dan memperbaiki dengan ramah bila ada kesalahan. Membantah dengan kasar saat anak salah justru membuat anak menjadi semakin jauh dan tidak percaya terhadap orang tua.      
5. Nabi Zakaria A.S. (Ayahnya Nabi Yahya)
Ayah yang satu ini patut diacungi jempol dalam hal berdoa kepada Allah agar diberikan anak. Hingga usianya 90 tahun, istrinya, Isya belum kunjung memiliki anak. Tanpa keraguan Zakaria terus bermunzat kepada Allah agar diberikan anak yang doanya tertulis dalam Surah Maryam ayat 2-6.  Berkat kesungguhan dan keyakinannya doa beliau akhirnya dijawab oleh Allah dengan terlahir anak bernama Yahya pada Surah Maryam ayat 7.
Melalui kisah ini, terdapat sebuah gambaran bahwa tugas menjadi ayah terjadi jauh sebelum terbentuknya janin. Zakaria telah mendoakan anaknya menjadi anak yang diridhai-Nya jauh sebelum istrinya hamil. Persiapan menyambut seorang anak tidak hanya setumpuk popok dan baju bayi saja, akan tetapi calon orang tua hendaknya juga mendoakan calon anaknya agar menjadi anak yang sholeh/sholeha.
6. Nabi Suaib A.S. (Mertua Nabi Musa A.S)
Tugas terakhir sekaligus tugas terberat seorang ayah yang memiliki anak perempuan adalah mencarikan pasangan dan menikahkannya. Memilih calon menantu yang akan memperistri anak perempuannya bukan hal yang mudah. Memiliki dua orang putri yang pemalu Suaib telah mengetahui anaknya menyukai Nabi Musa sejak pertama bertemu. Melalui isyarat perkataan bahwa Musa kuat dan bisa dipercaya serta memintanya menjadi pelayan, Suaib sudah mengetahui bahwa anaknya menyukai Musa.
Akan tetapi kriteria Suaib memilih menantu tidak hanya itu. Untuk membuatnya yakin bahwa Musa adalah pria yang baik untuk anaknya Suaib meminta mas kawin berupa bekerja dengannya selama 8-10 tahun. Dengan waktu tersebut diharapakan Suaib dapat mengenal pribadi Musa lebih baik. Selain itu waktu tersebut juga berguna untuk memberikan nasehat dan perbaikan untuk Musa sebelum menjadi menantunya.
Hal ini yang harus diperhatikan seorang ayah yang akan memilih calon menantunya. Memilih calon menantu untuk putri kita tidak hanya bedasarkan kesukaan anak saja. Akan tetapi lebih dari itu, seorang ayah juga harus mengenali pribadinya terlebih dahulu. Selain itu Suaib juga terbukti pandai mendidik anak perempuannya menjadi wanita yang pemalu.
Pemalu dalam artian positif. Kedua anaknya malu dan tidak mau berkumpul dengan lelaki yang bukan mahromnya untuk berebut mengambil minum ternak di sumur. Mereka lebih memeilih menunggu. Selain itu, anak perempuannya juga malu seraya menutup wajahnya saat berbicara kepada Musa, pria asing yang baru dijumpainya.
7. Luqman Al-Hakim
Sosok yang satu ini membuat namanya ditulis dalam Al Quran  berkat kebijakannya dalam mendidik anak. Beliau merupakan orang kedua yang bukan nabi akan tetapi ditulis di dalam Alquran setelah Maryam. Meskipun bukan nabi akan tetapi Allah memberikan hikmah (kebijaksanaan) kepadanya sebagaimana yang tertulis di Surah Luqman ayat 12-19.
Berkat keistimewaan hikmah tersebut Luqman dapat menasehati anaknya dengan begitu bijak dan arif. Secara tersirat Allah memerintahkan kepada para ayah untuk menasehati anaknya seperti Luqman menasehati anaknya.
Beberapa isi wasiat Luqman kepada anaknya diantaranya supaya mentauhidkan Allah dan melarang syirik. Beliau juga berpesan untuk senantiasa berbuat baik kepada orang tua dan menuruti perintahnya selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah serta tidak berbuat sombong dan menjaga suara di muka bumi. Selain itu beliau juga mengingatkan anaknya bahwa segala sesuatu yang dilakukan baik-buruknya akan dimintai pertanggungjawaban di hari akhir.
Pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki himar. Melihat tingkah laku Luqman itu, seorang pun berkata, "Lihat itu orang tua itu tidak kasihan membiarkan anaknya berjalan kaki". Setelah mendengarkan hal tersebut, Luqman pun turun dari himarnya, lalu menaruh anaknya di atas himar. Melihat yang demikian, maka orang berkata, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya asyik menaiki himar, sungguh kurang ajar anak itu".
Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh tersiksanya himar itu."
Mendengar percakapan tersebut, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu. Kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai.". Dalam perjalanan mereka berdua pulang ke rumah, Luqman Hakim menasehati anaknya tentang sikap manusia. "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu." (Muhammad Bahrun Rohadi)

KISAH NABI ADAM AS

ImageSetelah Allah s.w.t.menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya,laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya,menciptakan langit dengan mataharinya,bulan dan bintang-bintangnya yang bergemerlapan menciptakan malaikat-malaikatnya ialah sejenis makhluk halus yangdiciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi memeliharanya menikmati tumbuh-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya. Kekhuatiran Para Malaikat.
Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu,mereka khuatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu,disebabkan kecuaian atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari.Berkata mereka kepada Allah s.w.t.:”Wahai Tuhan kami!Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih,bertahmid,melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu,nescaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya,sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu.”

Allah berfirman,menghilangkan kekhuatiran para malaikat itu:

“Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku.Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya,bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya.”

Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.tt.dari segumpal tanah liat,kering dan lumpur hitam yang berbentuk.Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna

Iblis Membangkang.
Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang lain,yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya. Iblis merasa dirinya lebih mulia,lebih utama dan lebih agung dari Adam,karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur.Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat yang lain,walaupun diperintah oleh Allah.

Tuhan bertanya kepada Iblis:”Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?”

Iblis menjawab:”Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur.”

Karena kesombongan,kecongkakan dan pembangkangannya melakukan sujud yang diperintahkan,maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari syurga dan mengeluarkannya dari barisan malaikat dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pd.dirinya hingga hari kiamat.Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga hari kebangkitan kembali di hari kiamat.Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai hari kebangkitan,tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu,bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam,sebagai sebab terusirnya dia dari syurga dan dikeluarkannya dari barisan malaikat,dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk memujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat,mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang,menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:

“Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka.Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah.”

Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.
Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmat-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta,kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:

“Cubalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam.”

Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata:”Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka:”Bukankah Aku telah katakan padamu bahawa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Adam Menghuni Syurga.
Adam diberi tempat oleh Allah di syurga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya,menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulamat Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang disebelah kiri diwaktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga,ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya.ia ditanya oleh malaikat:”Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?”

Berkatalah Adam:”Seorang perempuan.”Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya.”Siapa namanya?”tanya malaikat lagi.”Hawa”,jawab Adam.”Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?”,tanya malaikat lagi.

Adam menjawab:”Untuk mendampingiku,memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah.”

Allah berpesan kepada Adam:”Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini.”

Kisah Penghuni Surga Terakhir

ImageBahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?

Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan?

Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.

Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal, seraya berfirman: Akulah Tuhan kalian.

Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami datang kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya.

Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian.

Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami.

Mereka mengikuti-Nya. Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam.

Aku (Rasulullah saw.) dan umatkulah yang pertama kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.

Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya).

Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah.

Rasulullah saw. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka. Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat.

Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: "Laa ilaaha illallah".

Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud. Allah melarang neraka memakan bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram dengan air kehidupan, sehingga mereka menjadi tumbuh seperti biji-bijian tumbuh dalam kandungan banjir (lumpur).

Kemudian selesailah Allah Taala memberi keputusan di antara para hamba. Tinggal seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka. Dia adalah ahli surga yang terakhir masuk. Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, anginnya benar-benar menamparku dan nyala apinya membakarku. Dia terus memohon apa yang dibolehkan kepada Allah.

Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain.

Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu.

Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga.

Allah berkata: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji.

Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi.

Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya.

Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga.

Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji!

Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (ridha).

Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya

Sejarah terbentuknya ldii

Cikal bakal organisasi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) didirikan pada tanggal 3 Januari 1972 di Surabaya, Jawa Timur dengan nama Yayasan Karyawan Islam (YAKARI)



Pada musyawarah besar [MUBES] YAKARI tahun 1981, nama YAKARI diganti menjadi Lembaga Karyawan Islam [LEMKARI].



Pada musyawarah besar [MUBES] LEMKARI tahun 1990, sesuai dengan arahan Jenderal Rudini sebagai Menteri Dalam Negeri [Mendagri] waktu itu, nama LEMKARI yang sama dengan akronim Lembaga Karate-Do Indonesia, diubah menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia

Kado Akhir Tahun

kado akhir tahunTak terasa, kita sudah berada di penghujung akhir tahun 2011. Banyak hal yang telah terjadi selama kurun waktu itu. Perkenankanlah kami memberikan kado akhir tahun buat sedulur semua. Semoga berkenan. Tak lain sebagai introspeksi dan refleksi perjalanan hidup kita, 12 bulan ini. Kita coba bicara hal yang umum dengan sudut pandang yang sederhana saja. Yang kami maksud adalah berbicara perihal kaya dan hal apa yang bisa kita lakukan kalau kita belum kaya.
Banyak yang mengira kalau orang kaya itu selalu berbahagia? Mari kita jawab pertanyaan ini dengan menguak fakta yang sebenarnya. Memang yang namanya orang kaya, uang untuk hidup tentu saja bukan masalah. Kaya identik dengan banyak uang. Sehingga kesenangan yang bisa dibeli dengan uang, juga hal yang mudah. Plesiran ke berbagai tempat, semudah mengangkat jari telunjuk. Tinggal pencet telpon. Kapan saja mau, segera terlaksana. Pada acara – acara tertentu sering mendapat kado – kado mewah. Ada mobil, jam mewah, kalung bertahta berlian dan sebangsa barang wah lainnya. Asyik pokoknya. Maklum, dedikasi dan tradisi lingkungan orang kaya.
Di tengah gelimang materi  ini,  tak salah jika ada yang mengira kehidupan  orang kaya hanya berisi kebahagiaan dan kebahagiaan. Namun, ternyata tidak. Dalam limpahan uang maupun hutang, kebahagiaan itu ibarat tamu yang datang dan pergi. Serupa matahari, paginya terbit, sorenya terbenam. Melawan bahwa matahari hanya boleh terbit dan tidak boleh tenggelam, hanya akan membuat seseorang menjadi dua korban: korban canda sekaligus korban kecewa. Korban canda, karena akan ditertawakan orang. Bahkan bisa dituduh gila. Dan korban kecewa, sudah pasti hal itu akan mengecewakan empunya cerita. Sebab melawan hukum alam.
Sudah ada daftar panjang korban dalam hal ini. Yang baru naik pangkat mengira bahwa kenaikan pangkat akan berlangsung selamanya. Yang dapat kursi, mengira kursi kekuasaannya akan langgeng didudukinya. Orang kaya menduga kalau kekayaan akan selama-lamanya. Dan mereka lupa akan tutur alam yang sederhana: tidak ada yang kekal.Allah berfirman; “Apa - apa yang ada di sisimu akan rusak - lenyap, dan apa - apa yang ada di sisi Allah itulah yang kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl 96)
Itulah sebabnya orang bijak mendidik dirinya untuk mengalir bersama aliran-aliran alami kehidupan. Bekerja, bekerja dan bekerja. Berusaha, berusaha dan berusaha. Namun berdoa dan tawakal tentu saja  dilakukan. Namun berapa pun kehidupan menghadiahkan hasil, sambutlah semuanya dengan senyuman. Naik jabatan itu indah karena memberi tanda sedang dipercaya. Turun jabatan juga indah, terutama karena terbuka kesempatan untuk mendidik diri instrospeksi, agar sabar narimo - ikhlas. Dalam bahasa orang suci, keikhlasanlah yang membuat kehidupan istirahat dalam keabadian. Berdiam dalam kesyukuran.
Rasulullah SAW bersabda, “Aku heran terhadap orang iman, jika menimpa kepadanya kebaikan, maka ia memuji Allah dan bersyukur, dan jika menimpa kepadanya musibah, ia mencari pahala dan sabar. Orang iman itu diberi pahala di dalam tiap – tiap sesuatu sehingga di dalam suapan yang diangkat ke dalam mulutnya.” (Rowahu Ahmad)
Dimana pun, lakon apa pun yang dihadapi selalu berbuah kebaikan berbalut senyuman. Ditimpa musibah tersenyum setelah berucap istirja untuk merengkuh pahala. Diberi kegagalan, melepasnya dengan senyuman, menindih amarah. Bangkit dan belajar lagi dengan tegar. Dicoba sakit, merenda dengan sabar menyungging senyuman.  Apalagi diberi kenikmatan, semakin banyak syukur dan syukur. Hidup seolah berjalan dengan indahnya. Semua berbalut senyuman, kebaikan dan keikhlasan. Tak pernah mati gaya.
Namun kembali ke tanda-tanda alam di awal, semuanya tunduk pada hukum ketidak-kekalan (sunnatullah). Setiap hal yang datang akan pergi. Yang lahir pasti mati. Itu sebabnya, banyak pejalan kaki ke dalam diri mulai menyadari,   hanya   persahabatan   dengan    kehidupanlah   yang akan menyejukkan. Jangan menentangnya. Bersahabat dengan karir yang lagi menanjak itu mudah. Bergandeng tangan dengan kesuksesan itu gampang. Namun bersahabat dengan cacian orang, hinaan dan musibah, hanya orang bijaksana yang bisa melakukannya dengan benar. Dalam bahasa seorang guru: happiness and unhappiness come from your unbalance mind. Kebahagiaan, kesedihan itu datang dari batin yang belum sepenuhnya seimbang. Itu sebabnya seorang sahabat menghabiskan sebagian waktunya untuk menyapu dan mengepel lantai. Bukan karena tidak bisa membayar pembantu.  Namun sedang mendidik diri bersahabat dengan kehidupan di bawah. Sekali, dua kali, tiga kali ia tidak membawa dampak apa-apa. Namun seperti menetesi batu dengan air, setelah sekian lama batunya berlubang. Demikian juga dengan latihan menjadi rendah hati. Ia seyogyanya dilakukan secara tekun terus - menerus. Niscaya baru berdampak memberi perubahan.
Serupa dengan para pegiat yang pernah duduk di kursi-kursi tinggi baik di dunia korporasi maupun birokrasi, kekuasaan kerap memaksa manusia mengenakan topeng-topeng keangkuhan, kesombongan, kemarahan. Baik karena dalih wibawa maupun karena alasan efektifitas kekuasaan. Tuntutan profesi, kebutuhan jabatan. Namun karena dilakukan bertahun-tahun, topeng-topeng itu kemudian menyatu dengan diri pribadi mereka. Ini serupa dengan memelihara macan dalam kamar, lama-lama kita dimakan oleh macan kesombongan, sekaligus dibuat menderita. Di titik inilah manusia memerlukan kerendahan hati untuk kembali ke bawah. Tidak hanya melihat, tetapi merasakan dan menjalani sendiri hal – hal yang dianggap remeh dan rendah ini.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (Rowahu Bukhari dan Muslim)
Abu Dzar berkata, “Kekasihku yakni Nabi SAW memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya): [1] Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, [2] beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku….” (HR. Ahmad)
Menyapu, mengepel, membersihkan taman, membantu isteri merapikan piring-piring kotor, membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah, itulah rangkaian hal sepele namun menyejukkan. Tidak saja kita bahagia, isteri juga bahagia, anak-anak bertumbuh, tetangga tidak pernah mendengar umpatan dari rumah kita. Dan dalam setiap lingkungan yang ditandai oleh sedikit kemarahan dan perselisihan, alam akan berbicara dengan bahasa-bahasa kosmik berupa datangnya kupu-kupu, berkicaunya burung, bernyanyinya kodok sampai dengan mekarnya bunga di mana-mana yang penuh kebahagiaan dan kedamaian.
Mungkin itu sebabnya Lama Zopa Rinpoche menulis dalam How to be happy: The sun of real happiness shines in your life only when you start to cherish others. Cahaya kebahagiaan yang sesungguhnya mulai menyala ketika seseorang menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan orang lain. Orang-orang yang tekun di jalan ini akan merasakan kesejukan dan keteduhan sesungguhnya dalam setiap pelayanan yang diberikan pada orang lain. Makanya di halaman lain buku Lama Zopa Rinpoche, ia berpesan: If you want to be loved, love others first. Siapa saja yang mau dicintai, belajarlah mencintai orang lain terlebih dahulu. Sejuk, teduh, lembut, dan indah itulah buah dari kehidupan jenis ini.
Hampir luput dari perhatian khalayak, sebuah mutiara hikmah senantiasa mengingatkan. Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik ra., pembantu Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (Riwayat Bukhori, Muslim). Transformasi harus segera dimulai.
Sebagaimana terjadi di setiap putaran kehidupan, tidak semua orang tertarik belajar keteduhan dan kesejukan. Merendah. Seperti sungai, selalu ada air yang lembut, sekaligus batu yang keras. Dan keduanya hadir bersama-sama melukis keindahan. Bagi para sahabat  yang belum sampai di sini, lebih-lebih masih didikte habis oleh topeng-topeng kekuasaan, alergi dengan penderitaan dan kesusahan, akan mudah menduga sahabat yang suka menyapu dan mengepel sebagai ketua dewan pembina ISDI (Ikatan Suami Diinjak-injak Istri). Dan ini pun layak dihormati. Namun ketika kita tidak marah, tidak menyakiti, sebaliknya malah menyayangi dan melayani, sesungguhnya sedang memberi kado terindah setiap hari pada orang-orang yang kita cintai. Lebih dari mobil mewah dan barang wah selebrasi kaum borju yang semu itu. Namun, semua itu perlu kebesaran hati. Kesabaran, keikhlasan dan kesadaran yang dalam Kawan!

Hari Ibu

hari ibu 2011Berbagai cara dilakukan orang untuk menyambut Hari Ibu, yang jatuh hari ini, Kamis - 22 Desember. Di kantor, para teman perempuan sepakat pakai baju bernuansa hijau – hijau. Teman sebelah bilang, harusnya para perempuan libur untuk menyambutnya. Sampai – sampai di rumah pun istri sempat bilang, seharusnya hari ini ia jadi ratu, gak usah masak, gak usah ngapa-ngapain, tetapi dimulyakan. Sebab hari ini adalah hari ibu. Saya tidak mengerti kenapa harus begitu?
Setiap orang mempunyai Ibu. Setiap orang dilahirkan dari rahim seorang wanita. Itulah ibunya. Nah, menurut hemat saya, seharusnya di waktu yang baik ini mari kita pergunakan untuk mengoreksi kembali apa yang sudah kita lakukan kepada ibu kita masing – masing. Apakah sudah kita penuhi hak – haknya? Sudah maksimal? Apa yang bisa kita ambil dari ini semua?
Dahulu, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling berhak bagi aku untuk berlaku bajik kepadanya?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Kemudian setelah dia siapa?” Nabi menjawab, “Ayahmu.” (HR. Bukhari, Kitab al-Adab no. 5971 juga Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah no. 2548)

Banyak salah kaprah yang terjadi dalam memahami hadits ini. Kebanyakan hanya berkutat pada intensitas dan kualitas dalam membina hubungan dengan orang tua, terutama Ibu. Umumnya memberi makna bahwa berbakti, berbuat baik kepada Ibu itu harus lebih baik dan lebih banyak daripada kepada Bapak. Gampangnya ¾ porsi untuk Ibu, sedangkan ¼ nya kepada Bapak. Sebab seorang Ibulah yang berperan besar dalam kehidupan seseorang, mulai dari mengandung, melahirkan, menjaga, mendidik dan membesarkan seseorang. Ibu memang berperan langsung. Beda dengan Bapak yang berperan tidak langsung. Pendapat ini tidak salah, hanya perlu pendalaman agar lebih mumpuni dan mempunyai greget dalam menebarkan kebaikan di muka bumi Allah ini.

Tengoklah cerita banjir di jaman Nabi Nuh AS. Ketika air sudah menenggelamkan dunia, seorang Ibu berteriak memanggil anaknya, menggendongnya biar selamat dari banjir. Tatkala air terus naik hingga sampai ke daun telinga, si Ibu mengangkat anaknya di atas kepala. Sayang, tak ada yang selamat pada hari itu, kecuali orang yang di perahu. Seorang ibu rela berkorban demi sang anak.

Di jaman Nabi Sulaiman AS, ada pertengkaran sengit dua orang ibu memperebutkan anak. Sampailah pertengkaran itu kepada Nabi Sulaiman AS. Kemudian Nabi Sulaiman AS memutuskan akan membelah bayi itu menjadi 2, agar masing – masing mendapat bagian. Separo ewang. Sang Ibu yang asli menangis tak tega anaknya dibelah dan rela menyerahkan kepada lawannya agar anak itu selamat. Apapun dilakukan seorang Ibu agar anaknya selamat.

Di jaman Nabi Muhammad SAW ada kisah Al-Qomah, yang durhaka kepada Ibunya. Sahabat ini kesulitan ketika akan meninggal dunia. Ia tidak bisa mengucapkan kalimat tauhid – laailaaha illallaah. Lalu Nabi menengarai ada yang tidak beres, kemudian dipanggilah Ibunya. Sampai panggilan ketiga, si Ibu tak jua mau datang. Akhirnya Nabi mengancam akan membakar al-Qomah jika Ibunya tak mau datang. Akhirnya, si Ibu datang dan memaafkan al-Qomah. Kematian pun lancar berjalan. Demi anak, seorang Ibu rela memaafkan melupakan sakit tak terperi.

Sedulur, sudah sepantasnya jika kita membalas semua kebaikan seorang ibu tersebut. Walau itu bersifat kodrati. Kebaikan berbalas kebaikan. Jangan sampai air susu dibalas air tuba. Itu namanya keterlaluan. Walau banyak cerita anak durhaka di dunia ini, tetapi agama tetap memerintahkan anak wajib berbakti kepada kedua orang tua. Bahkan sebuah nyanyian di kala kecil dulu menggambarkan hal ini dengan sangat baiknya;

Kasih ibu kepada beta/
Tak terhingga sepanjang masa/
Hanya memberi tak harap kembali/
Bagai sang surya menyinari dunia.

Lagu ini begitu indah menggambarkan perjuangan dan dedikasi seorang Ibu kepada anaknya. Dan mengingatkan kita untuk selalu berbuat baik kepadanya. Hampir semua kita menghafalnya. Namun, jangan sampai hanya sekedar jadi hafalan. Sebab dari lagu inilah kita bisa belajar apa maksud sabda Nabi SAW di atas. Yaitu agar kita bisa meneladani sikap yang ditunjukkan dalam figur seorang Ibu di keseharaian kita. Tidak hanya ta’dhim, menghormat, berbudi yang baik, meramut dan menjaganya. Sikap itu adalah memberi.

Tengoklah, sebenarnya dalam keseharian kita lebih suka dengan ”bahasa” meminta daripada memberi. Di rumah kita meminta perhatian pasangan kita, meminta anak-anak memahami kita, meminta pembantu melayani kita. Di tempat kerja, kita meminta bantuan bawahan, meminta pengertian rekan sejawat, dan meminta gaji yang tinggi pada atasan. Di masyarakat, mereka yang mengaku sebagai pemimpin selalu meminta pengertian dan kesabaran masyarakat, meminta masyarakat hidup sederhana dan mengencangkan ikat pinggang. Mengapa kita suka meminta tetapi sulit memberi? Apakah mereka tidak punya Ibu? Inilah persepsi lain dari sekedar berbuat baik dan menghormati Ibu. Yaitu belajar menjadi seorang Ibu dalam kehidupan yang sebenarnya yaitu dalam aplikasi memberi ini. Lihatlah, apakah seorang Ibu perhitungan dalam memberikan kasih sayang? Air susu yang keluar tidak mungkin bisa ditarik - masuk kembali.

Jangan salah, memberi tak selalu harus berkaitan dengan uang dan materi. Kahlil Gibran mengatakan, ''Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti.” Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi. Anda bisa memberikan perhatian, pengertian, waktu, energi, pemikiran, pujian, dan ucapan terima kasih. Anda bisa memberikan jalan bagi pengendara mobil lain di jalan raya. Anda juga bisa sekedar memberikan senyuman. Hal-hal yang sederhana ini dapat berarti banyak bagi orang lain.

Orang yang enggan memberi adalah mereka yang tak pernah belajar dari kehidupan itu sendiri. Seperti orang yang tidak pernah punya Ibu. Padahal esensi kehidupan adalah memberi. Tuhan sebagai sumber kehidupan adalah Sang Maha Pemberi. Lihatlah, betapa Tuhan telah memberikan segalanya tanpa pilih kasih, tak peduli kita baik ataupun jahat. Inilah unconditional love, sebuah cinta tanpa syarat. Demikian juga dengan seorang Ibu.

Jadi, kalau memang ingin merenung di Hari Ibu ini, simaklah baik – baik sedikit pituah di atas perihal memberi. Semoga tidak salah langkah. Memang di dalam surat Az-Zukhruf ayat 18, Allah menjelaskan bahwa wanita itu suka perhiasan dan tidak jelas. ”Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.” Oleh karenanya, kenapa Nabi mengulangnya 3 kali dalam memahami seorang Ibu, sebab sifat bawaan wanita yang penuh ketidakpastian dan susah untuk dimengerti. Untuk itu perlu kerja ekstra dan sedikit memaksa.

Amalan Yang Memudahkan Datangnya Rejeki



amalan mendatangkan rejeki
Akhir – akhir ini saya menjumpai di beberapa majelis ta’lim, pigura berukuran besar dengan judul di atas. Ada perasaan curious melihatnya. Bukan karena bentuknya yang bagus, rapi, terstruktur dan eye catching, tetapi kepada jumlahnya. Kenapa hanya 9 yang ditulis, kalau nyatanya lebih dari itu. Mungkin orang sering terhipnotis dengan 9, sebagai angka keberuntungan, hokie atau sebagai angka terbesar dalam pengetahuan manusia. Tapi bagaimanapun, sebagai bentuk kreatifitas dan dalam rangka saling bernasehat, hal ini perlu diacungi dua jempol: like this. Berikut saya tambahkan yang mungkin bisa menjadi referensi yang lebih bermanfaat dan berdaya guna.
1.      Memperbanyak istighfar.

Berdasarkan sabda dari Rosulullah SAW dalam hadist riwayat Ahmad yang artinya "Barang siapa yang memperbanyak membaca istighfar, maka Allah akan menjadikan segala kesusahan, menjadi kemudahan dan dari segala kesempitan Allah menjadikan jalan keluar dan Allah akan memberi rezeki untuknya dari yang dia sangka maupun yang tidak dia sangka".

Rosulullah SAW bersabda; “Sesungguhnya rajul dicegah rezekinya, sebab dosa yang dikerjakannya.” (HR. Muslim) Sabda Rasulullahi SAW dalam Hadist Sunan Ibnu Majah yang artinya : "Sesungguhnya seorang laki-laki akan dihalang-halangi rezekinya sebab kesalahan (dosa) yang telah ia kerjakan".

2.      Memperbanyak Infaq Fiisabilillah.

Allah berfirman dalam Alqur'an Surat Al-Baqoroh ayat 261 yang artinya "Perumpamaan orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui".

Dan juga Allah berfirman dalam Hadist Qudsi yang artinya "Allah yang Maha Mulya dan Maha Agung berfirman : infaqlah kalian maka Aku akan memberi nafkah untuk kalian". (HR.Bukhori).

3.      Memperbanyak Shilaturrahim (Menyambung Famili).

Allah berfirman dalam Al-Qur'an Surat An-Nisaa ayat 1, yang artinya "Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrohim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu".
Sabda Rasululloh SAW dalam Hadist Bukhori yang artinya "Barang siapa yang ingin diluaskan dalam rezekinya dan ingin di panjangkan dalam umurnya maka supaya menyambung famili".

4.      Senang menghormati tamu.

Berdasarkan sabda Rasulullah SAW dalam Hadist Riwayat Abu Syaikh yang artinya "Tamu datang dengan membawa rezekinya dan dia pergi dengan menghilangkan dosa kaum, dan Allah menghapus dari dosanya dan juga dosa-dosa kaum". Berdasarkan hadist ini, siapapun yang menjadi tamu harus dihormati jangan disia-siakan, sebab jika menyia-nyiakan tamu maka akan mendapat ancaman.

Juga sabda Rasulullah SAW; “Tamu datang pada kalian dengan membawa rezeki.” (HR. Muslim)

5.      Berusaha menjadi orang yang jujur dan amanat.
Rosulullah SAW dalam hadist riwayat ad-Dailami, bersabda "Amanah bisa menarik rezeki (mendatangkan) pada rezeki sedangkan khianat dapat menarik (mendatangkan) kemlaratan".

6.      Meningkatkan taqwa kepada Allah.

Firman Allah dalam Al Qur'an Surat At Tholaq ayat 2-4, yang artinya: "Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan memberi baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka.... Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memudahkan di dalam semua perkara orang tersebut".

7.      Memperbanyak tawakal kepada Allah.

Sesuai dengan firman Allah dalam Surat At Thoolaq ayat 3 , yang artinya : "...Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya....".Dan sesuai dengan sabda Rasulullahi SAW dalam Hadist Sunan Ibnu Majah, yang artinya : "Nabi Bersabda : seandainya kalian tawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal kepada Allah, niscaya Allah akan memberi rezeki pada kalian sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung , ketika pagi burung dalam keadaan lapar namun ketika sore burung dalam keadaan kenyang".

8.      Selalu berprasangka baik kepada Allah (Husnudhon Billaah).

Berprasangka baik merupakan perintah dari Allah dan Rosul, ternyata mendatangkan rezeki dari Allah. Berprasangka yang baik merupakan inti dan sebaik-baiknya ibadah kepada Allah, sesuai sabda Rosulullahi SAW dalam Hadist Riwayat At Tirmidzi; “Sesungguhnya baiknya persangkaan kepada Allah termasuk sebaik-baiknya ibadah kepada Allah".

9.      Menertibkan Sholat Tahajud dan Berdoa 1/3 malam yang akhir.

Seperti yang dijelaskan dalam Hadist Bukhori, yang artinya : "Rosulullah SAW bersabda : Allah yang Maha Barokah dan Maha Luhur setiap malam turun ke langit dunia, ketika tepat pada waktu 1/3 malam yang akhir sambil berfirman : Barang siapa yang berdoa padaKu akan Aku kabulkan, barang siapa yang minta padaKu akan Aku beri dan barang siapa yang minta ampun padaKu akan Aku ampuni".

10.  Menertibkan membaca Surat Al-Waqiah.

Sabda Rasulllah SAW yang bermaksud: "Barangsiapa yang membaca surah al-Waqiah setiap malam, maka tidak akan tertimpa kesulitan selamanya " (Riwayat Ibn Mas‘ud: al-Azkar, al-Jami al-Soghir)

“Ajarkanlah surah Al-Waqi’ah kepada isteri-isterimu. Karena sesungguhnya ia adalah surah Kekayaan.” (Hadis riwayat Ibnu Ady)

11.  Merutinkan sholat dhuha (terutama 4 rekaatnya)

Rosululloh bersabda di dalam Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR Hakim & Thabrani)

Hitungan ini bisa bertambah, atau malah berkurang. Yang terpenting adalah bagaimana hal ini bisa menginspirasi kita menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Jangan terpaku hanya urusan rezeki saja, maksudnya kekayaan thok. Sebab rezeki itu bermakna luas, bukan sekedar harta dan benda semata.

IBU



ibu
Baru sekarang terasa ada ‘sesuatu’ kepada Ibuku. Saya perhatikan seolah kami berdua berlomba berbuat kebaikan. Ketika saya berbuat satu kebaikan, Ibu malah lebih baik lagi kepadaku, dengan berpuluh-puluh kebaikan. Sikapnya melebihi seperti kepada bukan anaknya. Hingga akhirnya saya merasa kalah; kapan saya bisa membalas kebaikannya, kalau terus-menerus Ibu selalu berbuat baik dan baik kepadaku? Padahal seharusnya sayalah yang paling berkewajiban untuk melakukan itu semua – birrul walidain.

Ketika pulang kampung, selalu saja Ibu menyediakan makanan enak kesukaanku waktu kecil. Blenyik (semacam bergedel terbuat dari campuran ketela dan kelapa) dan ingkung (ayam utuh) selalu disediakan. “ Ini untukmu,” katanya. Harusnya sekarang waktukulah untuk menyediakan makanan yang sehat buat Ibuku. Kala dia butuh asupan untuk memelihara kebugaran tubuhnya yang sudah renta. Tapi ini malah sebaliknya. Ketika saya tolak, dengan lembutnya ia menjawab; “Ibu senang, kamu sudah bantu Ibu selama ini. Dan ini sedikit yang bisa Ibu berikan. Makanlah.”  Aku pun terkesima, harus bagaimana lagi selain menerima dan mensyukurinya. Rasanya seperti mitra dagang. Jauh di relung hati, tertambat nelangsa, apalagi kalau mengilas balik kisah – kisah istimewa akan hal ini. Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, " Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu." Beliau menajawab, "Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya." (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar karya Ibnu Qutaibah). Masih terngiang di dalam ingatan, kalau Ibu suka memberikan bagian-bagain makanan yang terenak kepada anaknya, untuk menghindari rebutan dan keributan.  Dan sebenarnnya Ibu pasti menginginkan makanan enak itu, tapi ia mengalah. Rela berbagi dan memilih makan makanan sisa yang ditolak anak-anaknya. Bahkan, makanan yang tidak enak pun dia bilang enak, sangat eunak, agar anaknya mau memakannya, mencontohnya.  Ohh, Ibu..! I missed U.

Dan ketika di ujung telepon engkau bertanya; “Gak ada rencana pulang?” Berarti itu sebenarnya perintah untuk pulang. Sayang aku selalu beralasan dengan kesibukan-kesibukan, acara demi acara dan pertemuan ke pertemuan sehingga engkau pun ‘sepertinya’ mafhum adanya. Padahal buat Ibu itu hal sederhana; bertemu dengan wajah anaknya dan cucu-cucunya. Namun justru sekarang berhadapan dengan wajah-wajah kesibukan, topeng-topeng acara, dan rupa-rupa meeting yang abstrak buatnya. Namun, ia mencoba memahami zaman dan segala rupa dinamikanya. Betapa bersalahnya aku, tidak menjawab panggilan itu dengan tepat. Malah, aku hanya minta doa agar semua diberi kelancaran dan kebarokahan. Tidak seperti Haiwah bin Syuraih, seorang ulama besar, yang suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. "Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum." Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya . (Diambil dari al-Birr wasilah karya Ibnu Jauzi). Masih jauh panggang dari apinya.

Bahkan, kala mendengar kabar sakit Ibupun, masih terus sibuk dengan urusan kerja dan kerja. Seraya dengan mudah bibir ini berkata;”Sudah dibawa ke dokter kan? Ke rumah sakit saja?” Duh, anak macam apa aku ini. Begitu ringannya berkata seperti itu, hanya alasan jarak dan waktu. Dan diri ini tersiksa karenanya. Bertolak belakang dengan Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi. Suatu ketika ia melihat seekor kala jengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kala jengking tersebut. Beliaupun tersengat kala jengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, "Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu?"
Beliau mengatakan, "Aku khawatir kalau kala jengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku." (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’). Ibu, berikan aku kesempatan untuk menjagamu. Maafkanlah anakmu.

Di dalam bebal memori otak anakmu ini, masih terngiang keinginan-keinginan Ibu. Walau itu datang samar dan sendu, deburnya masih jauh belum berlalu. Terekam nian dalam kalbu. Terngiang kencang di telingaku. Aku bisa merasakannya, namun tidak semua bisa aku penuhi. Walau sudah beribu kali aku mohon pertolongan Ilahi Robbi dan usaha kanan-kiri. Semoga cukup waktu untuk semua itu. Dan kemampuan ada bersamaku. Memang tidak seperti cerita Muhammad bin Sirrin yang mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, "Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham." Beliau menjawab, "Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa kuberikan pasti ku berikan." (Diambil dari sifatush shafwah) Banyak yang bisa aku berikan, sebenarnya, tetapi aku belum bisa melakukannya. Jiwa ini masih berhitung dengan prioritas-prioritas yang bahkan dibuat-buat, hingga mengalahkan prioritas Ibu. Oh, betapa bodohnya aku.

Dalam hening malam bisu, dalam nestapa anak manusia dan pada waktu yang tersisa, aku selalu berdoa untuk kebaikanmu Ibu. Masih banyak yang belum bisa saya lakukan, banyak yang masih harus saya kerjakan, semoga aku bukan menjadi anak yang durhaka. Melalui dirimulah aku lahir ke dunia, atas jasamulah aku bisa seperti sekarang dan kepadamulah aku punya kewajiban hak, semoga engkau bisa menerimanya. Ridha robbi biridhal walaadi.  Dan semoga Allah berkenan memberi hidayah kepadamu. Itulah harapan terakhirku. Amin. (pf)

Sholat Witir


sholat-witir
Apalagi yang bisa mendorong diri ini untuk witir? Dalil sudah. Contoh ada. Kenapa masih saja mengentengkan witir ini? Witir? Sunnah kan? Kadang bolak-balik hati ini susah dimengerti.
Gara-garanya cuma ditanya; “Piye mas witirmu?” Bukannya menjawab, tetapi malah nyingkur. Akibatnya sampai sekarang masih terus berbekas. Rasa malu itu terus menggejolak. Hati gemuruh berontak. Mendorong diri ini terus maju menggapai jawaban pertanyaan itu. Padahal mungkin si penanya hanya bergurau saja. Ya, itulah jalan pencerahan. Setelah sekian cara mencari momentum, tak disangka datang dengan amat sederhana. Jadilah peristiwa itu menjadi titik balik untuk melaksanakan shalat witir berkelanjutan. Apalagi setelah mengulas kembali dalil di bawah ini.

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Abu Bakar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab: ‘Aku shalat Witir sebelum tidur.’ Beliau lalu bertanya pada ‘Umar, ‘Kapan engkau shalat Witir?’ Dia menjawab, ‘Aku tidur kemudian shalat Witir.’” Dia (Abu Qatadah) berkata, “Beliau berkata kepada Abu Bakar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan hati-hati.’ Dan berkata kepada ‘Umar: ‘Engkau telah mengambilnya dengan kekuatan.’ (Hasan Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 988)], Shahiih Ibni Khuzaimah (II/145 no. 1084), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/311 no. 1421), Sunan Ibni Majah (I/379 no. 1202).

Dari Abu Ayyub al-Anshari Radhiyallahu anhu, ia menuturkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Shalat Witir adalah haq (benar adanya), maka barangsiapa yang mau, maka berwitirlah lima raka'at, barangsiapa yang mau, berwitirlah tiga raka'at dan barangsiapa yang mau, berwitirlah satu raka'at." (HR. Abu Dawud dalam kitab ash-Shalaah, bab Kamil Witr, hadits no. 1421)


Dari Abu Bashrah al-Ghifari Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi kalian tambahan shalat, yaitu shalat Witir, maka shalat Witirlah kalian antara waktu shalat 'Isya' hingga shalat Shubuh.'" [HR. Ahmad].

Sebenarnya tak ada apa – apa, saya hanya penasaran, kenapa sih tidak bisa melakukan sholat witir? Kenapa hanya di bulan puasa saja tertib witirnya? Di bulan yang lain kok tidak tertib? Dan saya sudah berusaha untuk bisa menjalankan salah satu sunnah tersebut. Hasilnya masih juga bolong – bolong. Berbagai kiat dan giat sudah dilakukan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan melakukan sholat witir sebelum tidur. Itu yang saya mampu. Itu yang saya bisa.

Mungkin kadang terlihat aneh, sore – sore kok witir. Habis mau bangun malam kadang kebablasan. Sejujurnya bukan kadang – tetapi banyak bablasnya - ketimbang bangunnya sehingga gak witir. Niat sih ada terus, tapi apakah hidup ini cukup dengan niat saja? He, he, he,,,,gubrakkkk,,,Innamal a’malu binniyyat.

Dulu Pak ustad di kampung saya memberikan wejangan - tip yang sederhana dan ciamik. Dia bilang, “Untuk melatih sholat witir, tambahkanlah sehabis sholat sunnah ba’da isya 1 rekaat saja.” Maka dulu kami pun ramai – ramai mengerjakannya sehabis sholat sunah ba’da isya. Sekian waktu berlalu dan semakin meluntur kegiatan itu, saya terpacu lagi untuk memulainya - sebagai bagian taqorrub ilallah dari hamba yang lemah ini. Semoga tidak terlambat, seperti kisah Abu bakar dan Umar di atas.

Ya, ini memang sunah bukan wajib. Bahkan mungkin ada yang mencibirnya. Namun bagi saya adalah sebuah jalan besar menuju kecintaan kepada Allah. Di samping jalan lain yang mungkin orang tempuh. Sebab banyak jalan menuju keridhoan Allah, bukan hanya ke Roma saja.

Nah, bagi yang mau menempuh jalan sholat witir untuk mempertinggi derajat amalannya berikut beberapa dalil tentangnya.

Dari Ali ra., ia berkata, ‘Witir bukan keharusan seperti sholat wajib kalian, akan tetapi Rasulullah SAW biasa melakukannya, dan Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah adalah witir, mencintai witir, maka lakukanlah sholat witir wahai ahli qur’an.” (Rowahu Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah)

Dari Jabir ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa khawatir tidak bangun di akhir malam, maka hendaknya dia berwitir di awalnya, dan barangsiapa yakin akan bangun di akhir malam, maka hendaknya dia berwitir di akhirnya, karena sholat diakhir malam disaksikan dan dihadiri (oleh malaikat) dan itu lebih utama.” (Rowahu Muslim).

Dari Jabir ra., dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai ahli qur’an, berwitirlah kalian karena Allah adalah witir dan menyukai witir.” (Rowahu Abu Dawud).

Dari Abu Tamim al-Jaisyani, dia berkata, aku mendengar Amru bin al-Ash berkata, seorang lelaki memberitahukan kepadaku bahwa Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menambahkan satu sholat kepada kalian, maka tegakkanlah ia diantara isya dan shubuh, yaitu sholat witir”. (Rowahu Ahmad)

Dari Abu Huroiroh r.a, dia berkata, ”Kekasihku SAW mewasiatkan kepadaku tiga perkara, agar aku berpuasa tiga hari setiap bulan, melaksanakan sholat dhuha 2 rekaat dan melaksanakan sholat witir sebelum tidur.”[Rowahu Al-Bukhory (Kitaabu al-Jumu’ati), Muslim ( Kitaabu Sholaati al-Mufaasiriina wa qoshrohaa), Abu Dawud (Kitaabu As-Sholaah), at-Tirmidzi (Kitaabu as-Shoumi) dan an-Nasa’i (Kitaabu as-Shiyaami)].

Jadi, sekarang bukan hanya salam saja yang dijangkepi witir. Sholat sunnah pun rasanya perlu juga diperjuangkan. Mari, kerjakan witir. (pf)

Pak, Buk, Sahabatan, Yuk?


ortu-teman-sahabat-anak
“Sudah di pondokan saja, biar ndak nakal lagi.”
Paling tidak, itu kata-kata yang paling sering terdengar yang ditujukan untuk pemuda atau pemudi yang dinilai nakal dan tidak bisa ditanggulangi. Tapi, yang sering terjadi adalah si anak begitu keluar bukannya akhlaknya semakin baik, malah semakin buruk. Nah, kenapa bisa gitu? Logikanya gini, hampir semua orang berpendapat bahwa jalan keluar dari mengatasi anak ‘nakal’ tersebut dengan memondokan si anak. Akhirnya, anak tersebut kumpulnya dengan sesama anak yang didaulat anak ‘nakal’ dan berakibat pada tidak berubahnya akhlak anak, malah mungkin bisa tambah buruk. Jadi, dengan demikian cara tersebut belum jadi efektif.
Berdasarkan pengamatan saya pribadi, anak-anak yang cenderung nakal dan mudah terpengaruh pada lingkungan disebabkan karena pembangunan diri dari rumahnya sendiri tidak baik. Disini, ada keterkaitan dengan peran orang tua.
Saya pribadi mengakui pernah nakal, apalagi zaman menyentuh remaja atau sekitar antara SMP dan SMA. Saat itu, saya mulai mengenal apa itu lawan jenis, media elektronik seperti Handphone, ataupun sosmed seperti facebook.  Belum lagi komentar teman yang sering mengatakan aneh tatkala menggunakan pakaian yang syar’i. Tetapi, sebab peran orang tua sayalah saya tetap kuat dan bahkan mampu mengalahkan hasrat untuk nakal tersebut. Orang tua saya tahu bahwa anak pada masa itu mudah sekali memberontak sebab ego yang sedang tinggi-tingginya . Maka, beliau menempatkan diri sebagai sahabat. Sehingga, jujur saja, ada keterbukaan antara saya dengan orang tua.
Mungkin, peran orang tua sebagai teman ini yang jarang dipraktikkan di lingkungan keluarga jama’ah. Kaitannya dalam hal ini, tidak ada keterbukaan antara orang tua dan anak. Sementara untuk menyelesaikan masalah orang tua lebih mengandalkan emosinya. Anak juga menanggapi dengan egonya sendiri, jadi  tidak ada persatuan fikiran yang malah memicu pada keretakan hubungan orang tua dan anak. Dampaknya, anak semakin memberontak dan semakin jadi kelakuan nakalnya.
Peran orang tua sebagai teman yang saya maksudkan ini bisa dilakukan dengan metode sharing. Orang tua juga bisa sedikit menceritakan kisahnya atau permasalahannya pada anak (dalam konteks ini masalah yang dipaparkan tidak terlalu pribadi atau bersifat umum) untuk saling tukar pendapat, sehingga memancing rasa terbuka dari pribadi anak. Sebab, bila orang tua saja mau mendengarkan pendapat anak mengenai solusi dari masalahnya, anak juga jadi tumbuh rasa kepercayaannya terhadap orang tua.
Saya membahas mengenai peran orang tua sebagai teman ini, sebab, fenomena yang ada di sekitar saya adalah tidak adanya hubungan keterbukaan antara orang tua dan anak. Sehingga, saya secara pribadi ingin menyuarakan bahwa anak pada dasarnya butuh orang tua yang bukan hanya sebagai peran utamanya sebagai pengayom, tapi juga sebagai sahabat. Dalam artian kalau mau ‘membenahi’ jangan selalu pakai emosi tapi pakai teori PDKT alias pendekatan.
C.id

Generasi Muda di Era Globalisasi


sholat-berjamaah
Berbagai kemajuan di bidang teknologi selain membawa manfaat bagi kehidupan manusia juga berdampak negatif. Kemaksiatan, kerusakan moral, pelanggaran-pelanggaran terhadap syariat agama semakin merajalela. Kesemuanya menjadi cobaan dan tantangan berat yang harus dihadapi oleh generasi muda.
Maka para remaja  dituntut benar-benar menjadi generasi yang ahli ibadah, berakhlaqul karimah, mandiri,  faham agama dan alim serta memiliki ketaqwaan yang tinggi, sehingga mampu membentengi diri dari berbagai macam dan bentuk kerusakan remaja di era globalisasi dan modernisasi.
Empat belas abad yang silam Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan berbagai macam bentuk kerusakan yang bakal terjadi pada zaman akhir, sekarang telah menjadi kenyataan. Perilaku pergaulan yang sudah tidak lagi mempedulikan antara halal-haram, dosa-pahala dan baik-buruk tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi pola hidup generasi muda, terjerumus dalam pergaulan bebas, perzinaan, tawuran, kecanduan narkoba, minuman keras dan pengaruh jelek lainnya.
Agar generasi muda tidak terjerumus dalam pengaruh-pengaruh jelek, ada 3 hal yang harus dilakukan, di antaranya :
1. Mendekatkan diri kepada Allah
Untuk menjaga kesehatan ginjal, harus tetap banyak minum, walau tidak merasa haus. Untuk mejaga kesehatan hati (qolbu), harus tetap banyak istigfar dan minta maaf, walau tidak merasa salah.
Agar remaja tidak mudah terpengaruh oleh ajakan atau bujukan kawan dan mampu mengatasi rasa keingintahuannya, maka remaja harus meningkatkan pendekatan dirinya kepada Allah SWT yaitu dengan menertibkan dan meningkatkan ibadah, semisal meningkatkan kekhusyuan sholat dan banyak melakukan sholat-sholat sunnah terutama sholat malam, sambil memohon penjagaan dan keselamatan dari Allah dari berbagai macam kemaksiatan.
Firman Allah SWT:
“Dan tegakkanlah sholat, sesungguhnya sholat itu bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (Surat Al-Anqabut ayat 45)
Bilamana telah menjalankan sholat, namun perbuatannya tak terjaga, kemungkinan ada yang salah dalam sholatnya hamba. Dia baru sekedar sholat secara fisik tapi belum mampu menjiwai nilai-nilai akhlaq yang terkandung dalam sholatnya.
Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
Menetapilah kalian dengan sholat malam sebab sesungguhnya sholat malam itu kebiasaan orang-orang sebelum kalian dan bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, mencegah dari dosa, menghilangkan dan menolak penyakit dari tubuh. (HR Tirmidzi)
2. Memilih teman bergaul yang baik dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif.
Pergaulan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Orang yang berteman dengan orang yang baik, kemungkinan besar ia akan baik. Sebaliknya orang yang berteman dengan orang buruk, kemungkinan besar ia juga akan terpengaruh menjadi buruk. Karena itu, remaja hendaknya memilih teman yang baik, yang kuat agamanya, kuat imannya, yang ahli ibadah agar ia juga ikut baik.
“Perumpamaan teman bergaul yang sholih dan teman bergaul yang jelek adalah sebagaimana penjual minyak wangi dan ubupan (perapian) pandai besi. Penjual minyak wangi tidak akan melewati padamu, adakalanya kamu akan membeli minyak wangi itu darinya, atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau wanginya. Dan (sedangkan) pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau (paling tidak) akan kamu dapatkan bau sangitnya.”(HR Bukhori)
Oleh karena itu menentukan teman bergaul adalah sangat penting, karena sebagian waktu kita berada di sisi teman pergaulan kita. Sedangkan manusia memiliki kelemahan, mudah mengikuti sesuatu yang cenderung melanggar peraturan agama. Dengan banyak bergaul dengan orang yang faham, maka walaupun tidak bisa belajar ilmu kepadanya, paling tidak sebagian waktu kita akan banyak disibukkan dengan hal-hal yang baik dan mengurangi waktu-waktu untuk melanggar dan maksiat.

“Seorang laki-laki itu menetapi kebiasaan teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR Abu Dawud)
LDII selalu mengadakan pengajian khusus remaja setiap seminggu sekali dengan materi Alquran dan Alhadits serta dibekali nasehat agama sebagai pembinaan generasi muda. Dengan mengikuti dan menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan yang positif seperti giat menghadiri pengajian, komunitas hobi, sepakbola, basket, Persinas, kursus ketrampilan dan lain-lain, seorang remaja akan terhindar dari kekosongan waktu.
Kekosongan waktu biasanya mendorong remaja keluar rumah dan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang dapat menyeret dirinya kepada hal-hal yang negatif termasuk penyalahgunaan narkoba. Namun jika seorang remaja memiliki banyak kegiatan, ia tidak sempat lagi mengajak teman-temannya untuk mengerjakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya.

3. Peran Orang Tua.
Orang Tua memiliki peran penting dalam mendidik, menjaga, mengawasi, komunikasi efektif tumbuh kembang anak di era globalisasi dan modernisasi ini.
Dengan maraknya korupsi, kejahatan, kekerasan dan pergaulan bebas, maka mendidik anak hanya agar sekedar pintar (pintar komputer, pinter matematika, dan sebagainya.) tanpa dibarengi dengan pendidikan agama dan akhlaqul karimah, bisa jadi hanya akan mencetak calon-calon koruptor atau calon penjahat. Maka utamakan pendidikan moral dan agama sejak dini agar generasi penerus kita menjadi masyarakat yang santun, jujur dan amanah. Sholeh sebagai individu, sholeh juga sebagai warga masyarakat dan professional religious.
Orang tu juga harus menekankan anaknya agar memiliki pandangan yang luas dan berwawasan ke depan. Harus mampu memikirkan semua perbuatannya, apa dampak positif dan negatifnya. Jika suatu perbuatan akan mendatangkan dampak negatif, maka mereka harus menjauhinya. Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :
Ketika kamu akan mengerjakan suatu perkara maka pikirkanlah, jika perkara itu baik maka teruskanlah dan jika perkara itu jelek maka berhentilah. (HR Ibnu Mubarok)

Tetangga 2


tetangga
www.nngov.com


Dari Abu Syuraih al-Khuzai, bahwasanya Rasululloh SAW bersabda, ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya. (Rowahu Bukhory (5672)) Bukan sanak, bukan saudara, bukan anak, juga bukan orang tua, tetangga punya kedudukan istimewa. Simak dalil di atas, redaksinya saja dimulai dengan kata, Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, yang membuat bulu kuduk bergidik. Bagaimana tidak, salah memenej hubungan dengan tetangga ini, bisa melepaskan status keimanan. Kalau kita gak bisa baik dengan tetangga berarti kita orang yang tidak beriman kepada Allah dan juga tidak beriman kepada hari akhir. Padahal iman Allah dan hari akhir adalah rukun iman. Repot kan? Apalagi misalnya, tetangga yang bikin kita susah itu datangnya belakangan. Sudah orang baru, tapi blagu, sehingga mengusik zona nyaman kita. Tapi ternyata itu tak berlaku, tetap harus berbuat baik dan sebaik mungkin kepada tetangga.  Hadits di bawah ini menguatkan hadits di atas. Bahkan sampai tiga kali Nabi SAW menyebut status keimanan ini.

Nabi SAW bersabda, ’Demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman, demi Allah tidaklah beriman.” Para Sahabat bertanya, ”Siapa ya Rasulullah?” Beliau SAW menjawab, ’Orang yang jika tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Rowahu Bukhori (6016))

Saya sering diskusi dengan istri untuk meningkatkan mutualisme bertetangga ini. Ya, ternyata harus sering – sering, sebab ada pemahaman yang kadang bikin bingung. Misal, kan tetangga itu 40 rumah ke samping, depan dan belakang, terus kalau yang mau kita bagi gak cukup, ke mana dulu yang harus diberi? Apa gak usah diberi saja? Ntar busuk dong?  Begini, yang paling aman memang memberikan kepada semuanya. Ini jelas dan pasti gak ada konflik. Kalau yang dibagi terbatas, maka di hadits diterangkan untuk memberi ke tetangga yang paling dekat pintu rumahnya. Gak usah diukur pakai meteran. Kira – kira saja yang dekat dengan pintu rumah kita. Nah, kalau sekiranya ternyata tetangga yang dekat ini hidup berkecukupan, maka yang paling membutuhkan diantaranya.

Dari Aisyah r.a, aku bertanya kepada Nabi SAW, ’Ya Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, kepada siapa aku harus memberi? Baliau SAW menjawab, ”Kepada yang paling dekat pintu rumahnya darimu.” (Rowahu Bukhori di dalam Adabul Mufrod no 107, Jamius Shahih (2140), Ahmad (6/175) dan al-Baihaqi (7/28))

Dari Abdullah bin Musawir, ia berkata, aku mendengar Ibnu Abbas menyampaikan kepada Ibnu Zubair, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ”Tidak termasuk orang iman, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (Rowahu At-Thabrani di dalam Mu’jam Alkabir (12/154), Al-Baihaqi (10/3), Abu Ya’la (5/92))

Dan yang penting juga agar kita bisa menghormat tetangga adalah tidak merasa hina terhadap sesuatu yang kita bagi. Kadang kita merasa risih, apa mau ya mereka? Patokannya, jika itu yang kita makan dan dalam keadaan masih baik – tidak busuk – tidak usah minder. Kadang kita minder dan malas untuk dibagikan sehingga malah membusuk. Gak berkah kan? Bisa  mubadzir dan kena bendu tetangga.

Dari Abu Huroiroh ra, bahwasanya Nabi SAW bersabda, ”Wahai wanita muslimat, janganlah merasa rendah/hina untuk memberi hadiah kepada tetangga walau sekadar kikil kambing.” (Rowahu Bukhori (5671), Muslim di dalam bab az-Zakah (90))

Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak kuah perbanyaklah airnya dan sisihkan/bagi – bagikan kepada tetangga – tetanggamu.” (Rowahu Muslim (2625), Ahmad (5/149))

Memang harus terus berimprovisasi dalam bertetangga ini. Tak lain karena adanya hak dan kewajiban di dalamnya yang harus kita ketahui dan jalankan. Gak boleh sembrono. Apalagi apatis. Jika sudah baik, tinggal memelihara. Dan memelihara pun perlu kehati – hatian, biar langgeng dan barokah.

Suatu ketika Rasul SAW bertanya kepada para sahabat, "Tahukah kalian, apa saja yang menjadi hak-hak tetangga itu?" "Hanya Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu," jawab mereka.
Rasul lalu menjelaskan, "Hak-hak tetangga itu adalah: jika ia meminta pertolongan kepadamu, tolonglah dia; jika meminta pinjaman kepadamu, pinjamilah dia; jika meminta bantuan kepadamu, bantulah dia; jika ia sakit, jenguklah dia; jika ia memperoleh kebaikan atau kesuksesan, berilah ia ucapan selamat; jika ia mengalami musibah, berikanlah ta'ziyah (doa dan penghiburan); jika ia meninggal dunia, antarkanlah jenazahnya. Janganlah engkau meninggikan bangunan rumahmu sehingga menghalangi ventilasi udara tetanggamu tanpa seizinnya; janganlah pula engkau menyakitinya karena engkau memasak suatu makanan yang baunya dapat dirasakan oleh tetanggamu tanpa engkau memberi sebagiannya. Jika engkau membeli buah-buahan, berikanlah sebagian untuknya. Jika engkau tidak memberinya, maka bawalah masuk buah-buahan itu ke dalam rumahmu secara sembunyi-sembunyi. Dan janganlah anak-anakmu sampai membawa keluar rumah buah-buah itu, sehingga anak-anak tetanggamu menjadi tahu dan memicu kemarahan mereka." (HR Tabrani).

Hidup memang penuh dengan cobaan. Bisa datang dari anak, istri ataupun tetangga. Berbahagialah bagi mereka yang mempunyai tetangga yang baik. Tinggal memelihara saja. Seumpama belum, berusahalah bagaimana menciptakan kehidupan bertetangga yang baik. Jangan pernah menyerah.

Dari Nafi bin Abdul Harits, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ”Di antara kebahagiaan seorang muslim adalah tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik dan kendaraan yang enak.” (Rowahu Bukhori dalam Adabul Mufrod hadits no 116). (pf)